KOMPAS.com – Obesitas selama ini lebih sering dikaitkan dengan risiko diabetes atau penyakit jantung. Namun, dampaknya ternyata juga dapat mengancam kesehatan hati. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kelebihan berat badan, terutama obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut, merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit hati berlemak terkait gangguan metabolik atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).
Kondisi ini terjadi ketika lemak menumpuk secara berlebihan di dalam hati akibat gangguan metabolisme, resistensi insulin, dan kelebihan asupan energi yang berlangsung dalam jangka panjang. Prof. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi, menjelaskan bahwa MASLD umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.
Baca juga: Waspada, Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker Saluran Cerna “Penyakit perlemakan hati perlu dipahami sebagai suatu spektrum. Pada tahap awal, kondisi ini dapat berupa penumpukan lemak di hati. Namun, apabila faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH, yaitu bentuk yang lebih berat karena sudah melibatkan peradangan dan kerusakan sel hati,” kata Prof.Rino dalam acara diskusi yang diadakan oleh Novo Nordisk di Jakarta (11/6/2026).
Organisasi kesehatan dan berbagai asosiasi hepatologi internasional mencatat bahwa sekitar 70–80 persen penyandang obesitas memiliki perlemakan hati, menjadikan obesitas sebagai salah satu pendorong terbesar meningkatnya kasus MASLD di seluruh dunia. MASH (Metabolic Dysfunction-Associated Steatohepatitis yang tidak ditangani dapat berujung pada fibrosis, sirosis, gagal hati, hingga kanker hati.

